Mengapa Karyawan Malas Menggunakan Sistem Internal Perusahaan?

Skenario yang sering terjadi adalah perusahaan telah menginvestasikan budget yang cukup besar untuk membangun software bisnis internal, misalnya HRIS atau ERP internal, dengan harapan para karyawan memakainya dan perusahaan mengadopsi digitalisasi modern. Namun, setelah 2 bulan peluncuran, kita dapati fakta yang menyakitkan bahwasannya karyawan diam-diam masih menggunakan Excel / Spreedsheet, mencata di buku, atau melaporkan progress pekerjaan via group WhatsApp.. Mereka menolah menggunakan sistem baru dengan barbagai alasan, salah satunya “Sistemnya ribet, Pak!”, atau “Menunya membingungkan Bu, saya takut salah input.”

Biasanya Departemen IT atau Manajer SDM menyalahkan kedisiplinan karyawan. Namun kami melihat masalah ini terjadi karena Software Bisnis Internal yang tidak ramah pengguna sehingga User Adoption menjadi rendah akibat dari UI/UX yang sangat buruk.

“Asal Berfungsi Saja” di Aplikasi Enterprise / Software Bisnis Internal

Anggapan “Asal berfungsi saja” sudah sangat tidak relevan di era digitalisasi saat ini. Software bisnis internal perusahaan yang hanya fokus pada fungsi dan mengabaikan UI/UX tidak akan bertahan lama dipakai karena UI/UX adalah tentang psikologi efisiensi kerja. Jika karyawan sudah terbiasa dengan aplikasi modern seperti Gojek, Instagram atau Tokopedia di kesehariannya, maka wajar saja jika mereka akan merasa stres saat dipaksa menggunakan aplikasi kantor yang lambat, kaku, dan membingungkan selama 8 jam sehari.

Transformasi UI/UX Aplikasi Internal Perusahaan Visualisasi transformasi UI/UX: Mengubah antarmuka legacy software bisnis internal yang membuat frustrasi karyawan menjadi dasbor modern yang intuitif, bersih, dan meningkatkan produktivitas.

Aplikasi dengan antarmuka yang buruk tidak hanya membuat karyawan lelah, tetapi menambah biaya operasional perusahaan karena inefisiensi waktu kerja. Berikut kami berikan contoh perhitungan secara maya:

Aspek Operasional Aplikasi Lama (UX Buruk / Legacy) Aplikasi Modern (Pendekatan UX Dika Karya Tech)
Input Data (Data Entry) Menggunakan menu dropdown statis berisikan ratusan daftar nama yang harus di-scroll satu per satu. Memakan waktu lama dan membuat mata lelah. Menggunakan fitur Auto-Complete Search. Menghemat waktu input hingga 70%.
Aksesibilitas & Responsivitas Desktop Only. Karyawan lapangan/gudang harus mencatat di kertas dulu, lalu kembali ke meja komputer di kantor untuk menyalin ulang datanya. Mobile-Responsive. Karyawan gudang bisa langsung melakukan input pemindaian barcode dari tablet atau smartphone mereka secara real-time.
Waktu Pelatihan (Onboarding) Karyawan baru harus menjalani training berhari-hari hanya untuk menghafal letak menu laporan. Karyawan baru bisa langsung paham dalam 15 menit, karena navigasinya seperti menggunakan media sosial.

Membuat Frontend yang Ramah Manusia

Sebuah mesin mobil (Backend/Database) sekuat apapun tidak akan bisa dikendarai dengan baik jika setir dan pedal gasnya tidak nyaman untuk dikendalikan.

Kami menggabungkan keandalan arsitektur database perusahaan yang aman dengan kenyamanan pengguna dari teknologi Frontend Framework modern (seperti React, Vue.js, atau Next.js) yang biasa dipakai oleh perusahaan besar dan startup teknologi.

Kami memastikan Software Bisnis Internal perusahaan berjalan lancar, tetapi juga nyaman untuk digunakan setiap hari. Sehingga tingkat User Adoption akan naik drastis, dan investasi digitalisasi perusahaan akan menghasilkan ROI yang kuat.

Jangan biarkan “Sistem Gagal” menjadi perbincangan di kantin karyawan, konsultasikan perombakan atau pembuatan aplikasi internal Anda bersama para arsitek UI/UX di Dika Karya Tech hari ini.

Aplikasi Internal Anda Sedikit Yang Mau Pakai?

Jangan membiarkan investasi IT terbuang karena karyawan enggan memakainya. Hubungi Dika Karya Tech untuk merevitalisasi UI/UX legacy system menjadi modern dan intuitif.

Kembali